IZ*ONE Suki to Iwasetai MV Review

Debut single IZ*ONE untuk pasar Jepang, Suki to Iwasetai akan rilis pada 6 Februari 2019. Nah, di tanggal 25 Januari kemarin, MV untuk Suki to Iwasetai akhirnya dirilis di official Youtube channel mereka. Penantian panjang akhirnya terjawab sudah dengan rilisnya MV ini.

Kenapa? Karena ini adalah MV untuk debut di Jepang, yang seharusnya ada di prioritas yang sama dengan lagu yang rilis di Korea. Karena ingat saja, janji untuk IZ*ONE adalah mereka akan aktif di dua negara. So, Suki to Iwasetai akan jadi benchmark pertama.

Langsung saja, ini dia review untuk Suki to Iwasetai.


MV ini dibuka langsung dengan dance scene di tempat terbuka. Tanpa intro, rasanya agak sedikit aneh. Dan tidak ada hal menarik yang bisa dibahas dari MV ini dari storyline karena aku tidak menemukannya. Sekali lagi, hal ini membuat review jadi susah.

Ya, storyline kembali menjadi titik lemah. Tidak banyak yang bisa dibahas dari segi ini karena secara keseluruhan isi MV ini tidak membawa storyline. Hanya dance dari awal sampai akhir dengan perubahan tempat saja.

Intinya hanyalah member melakukan dance di tempat terbuka, tidak ada pesan khusus atau apa -mungkin tumpukan sampah itu bisa berarti sesuatu juga sih- yang bisa kutangkap. Well, karena itu, lebih baik kita membahas dari segi dance saja.

Untukku, dance di Suki to Iwasetai lebih oke ketimbang La Vie en Rose dari segi banyaknya variasi blocking dan gerakan yang lebih tegas. Formasi X dan butt dance bukan hal baru -standar yang sudah ada sejak GG dan KARA populer di Jepang- tapi ya lumayanlah.

Tapi ada juga kekurangannya, untukku, terlalu banyak point di koreo ini. Tidak ada signature pose yang kuat. Beberapa seperti daur ulang dari koreo La Vie en Rose, dan yang menurutku bisa jadi signature dari Suki to Iwasetai, bagian di “won’t you kiss” dan “one more kiss” impact-nya kurang kuat.

Sedikit disayangkan, tapi overall, dance di lagu ini sudah oke. Untuk pasar Jepang, sedikit overkill mungkin. Kalau dibandingkan BDZ, susah membayangkan Suki to Iwasetai akan mencapai level popularitas yang sama karena koreo yang lebih rumit.

Membicarakan background, bisa dibilang Suki to Iwasetai menawarkan visual yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Permainan warna mencolok kurasa bisa dieksekusi dengan bagus. Berbeda dengan La Vie en Rose yang lebih bermain aman di warna pastel.

Karena banyak yang diambil di outdoor, cukup impresif bagaimana mereka bisa menampilkan warna-warna sebaik ini. Dan untuk sinematografinya, sutradara MV ini jelas patut mendapat dua jempol. Permainan angle di Suki to Iwasetai mungkin salah satu yang terbaik yang kulihat di awal 2019 ini.

Kesan devilish little girl kentara kuat di MV ini. Ini juga terbantu berkat kostum yang jelas-jelas menonjolkan kaki, daya tarik girl group Korea tiap kali mereka merilis single di Jepang. This always been the case and it works well, I presume.

Sementara untuk screentime, ini salah satu alasan kenapa review dari Suki to Iwasetai jadi terlambat; screentime Chaewon sangat minim. Di La Vie en Rose beberapa member terlihat kurang mendapat peran, dan yang sama terulang lagi.

Satu hal menarik, 4 rank teratas dari Produce; Wonyoung, Kkura, Joyul, dan Yena mendapat solo shot paling banyak di Suki to Iwasetai. Yang lain juga dapat tapi lebih seringnya two shot. Hmmmm….

Kali ini yang paling kelihatan mendapat jatah screentime minim antara lain Kangchan, Hiichan, Nako, dan tentu saja Chaewon. Minjoo pun sebenarnya sedikit, tapi di waktu yang sedikit itu dia memberi impact yang lebih besar, jadi masih bisa ditolerir.

Overall, Suki to Iwasetai adalah debut MV yang oke. Image yang berusaha ditampilkan masih sejalan, hanya dengan tambahan bumbu-bumbu yang lumayan memancing. Karena sampai artikel ini naik mereka belum perform live sekalipun, kurasa patut ditunggu kapan.

Nah, sampai artikel ini naik, views untuk Suki to Iwasetai masih di angka 2.8M. Jumlah yang terbilang kecil. Meskipun ini rilisan untuk pasar Jepang, toh tidak restricted untuk area tapi jelas bisa kubilang underperformed. Padahal untuk hype, terbilang lumayan.

Well, masih harus menunggu singlenya rilis sebelum bisa mengatakan kalau Suki to Iwasetai flop. Yang pasti sih, angka ini cukup mengecewakan. Nah, kalau kalian sendiri bagaimana kesannya untuk MV ini?

Karena Ssammu dapat peran yang terlalu kecil disini, meh.

All images and videos used is credited to it’s respective owners

Leave a Reply

  1. Ane sih suka bgt sama MVnya, kayak Synchronicity versi bermodal.
    Poin utama dari MVnya ya dance yg member pake coat, itu keren bgt.
    Pengambilan gambar dan background juga bagus.
    Dari segi MV kalau dibanding La vie en Rose ane lebih suka ini, permainan warnanya lebih artsy.
    Kesimpulannya MV ini menitikberatkan visual dan berhasil menurut ane 🙂

    Kekurangan MV ini ya di intro yg langsung close up tanpa aba-aba 😀
    Sama penambahan efek kilat di dance scene yg di aspal gak penting bgt. Lagipula langitnya cerah dan ada sinar matahari.

    MVP: Sakura, Yujin, Minjoo 😀
    Kalo komenin lagu ada tempatnya sendiri kan nanti? 😀

    • Kenapa harus Synchro? 😀

      Emang, dibandingin La Vie en Rose, Suki to Iwasetai menang dari visual. Visual MV maksudnya, bukan visual member ya 😀

      Minguri jadi MVP? Lah?
      Ada lah review lagunya sendiri entar. Kalau gak tabrakan aja jadwalnya.

  2. Karena sutradaranya sama hehe, pengambilan gambar pas dance juga mirip

    Lah iyalah, di La vie en rose konsepnya member tampil cantik. Di suki to iwasetai member main di tumpukan sampah 😀

    Ane milih ada alesannya loh
    Sakura MVP karena ekspresinya waktu bagian won’t you kiss pertama yg jalan ke depan trus muter ke belakang.
    Minjoo karena scene yg kayak mau buka coat, itu keren abis.
    Yujin the real MVP 😀 gak tau kenapa cocok aja gitu cool nya dapet