Sakamichi Review : Kokuhaku no Junban

Another day another coupling. Kali ini, Kokuhaku no Junban sebagai lagu dari unit yang selama ini lebih sering kusebut sebagai unit Kuchiyakusoku karena itu lagu pertama mereka. Well, entah namanya sekarang jadi resmi atau tidak; Joshiko Quartet.

Yumi, Capt, Kanarin, dan Manatsu kembali di unit yang hanya hadir satu tahun sekali ini. Dan ini kesempatan terakhir sebelum Yumi akan meninggalkan Nogi di bulan November ini. Well, terserahlah karena toh bagaimanapun ini adalah unit yang akan selesai setelah 22nd single ini. Langsung saja, ini dia reviewnya.


Sutradara Arafune Yasuhiro kembali setelah terakhir menangani MV Boku no Shoudou. Well, itu bukan salah satu MV favoritku juga sih, karena ada Transformers. Semoga saja kali ini tidak. Pemeran utama di Kokuhaku no Junban adalah Yumi, sebagai role terakhirnya di Nogi.

Storyline cukup jelas disini. Sebagai anggota teater yang akan bubar, mereka berempat berencana untuk melakukan pentas terakhir. Dan selalu ada twist untuk saat seperti ini; sebelum pentas terakhir, bola baseball melayang tepat ke arah Yumi, membuatnya amnesia.

Plot seperti ini sebenarnya bagus, kalau saja beberapa waktu terakhir aku tidak sering melihat parodi judul sinetron azab yang luar biasa di social media. Entah kenapa jadi terasa hambar. And furthermore, their acting sucks. There’s some cringe-worthy act by member before but this one…. ouch.

Selain akting yang datar saja, menurutku detail dari background terlihat terlalu berlebihan. Ini kuambil dari scene berikutnya ya. Terlalu ramai dan penggunaan kameranya kurang mendukung untuk angle yang lebih tepat. Dan yang paling parah, tulisan yang dibuat lewat CG untuk ditempel begitu saja. “Chapter 1”

Sejujurnya, di titik ini aku mulai malas untuk melanjutkan karena untuk ukuran MV dengan storyline, ini sama sekali tidak berhasil membuatku penasaran akan kelanjutannya. Tapi karena tuntutan, jadinya dilanjutkan saja. Well, scene berikutnya sendiri juga langsung lompat ke konklusi tanpa proses.

Bagaimana Yumi kesulitan untuk latihan, dan tiba-tiba waktunya lompat ke malam hari dan dia melihat isi handycam yang dipakai untuk merekam latihan. Mungkin untuk mencari tahu kelemahannya -majime, I like it- dan tiga orang lain langsung memutar proyektor yang berisi rekaman sebelum Yumi amnesia.

Memperlihatkan kebersamaan dan waktu yang mereka lewati, Yumi pelan-pelan mulai mengingat semuanya. Di “Chapter 2” dia mulai lebih luwes dalam latihan, meski masih harus berlatih sendirian di malam hari. Dan disini, kita langsung lompat lagi ke “Chapter 3”

Dan sebelum aku sadar, sudah ada saja tulisan “Chapter 4” di layar, yang mana adalah Hari-H pementasan terakhir mereka. Dan deja vu dari opening scene, hanya saja kali ini Yumi berhasil menangkap bolanya, meski itu adalah CG yang bisa disamakan dengan naga dan elang dari iklan es krim.

Yumi pingsan lagi, dan bangun-bangun sudah ada di panggung pentas. Ada bola disko besar yang bisa terbang sendiri dan lagi-lagi, lompat ke “Chapter 5” dimana itu adalah pentas sebenarnya, jadi mungkin scene sebelumnya itu adalah latihan setelah ingatan Yumi kembali.

Paling akhir, adalah ending yang sangat kelihatan dipotong secara kasar. Setelah Yumi selesai bicara langsung selesai begitu saja MV ini. Sampai disini, Kokuhaku no Junban adalah MV paling membuat spechless dari Kaerimichi, karena aku belum menonton Nichijou.


Memang tidak semua bagian Kokuhaku no Junban itu jelek. Yang dapat nilai paling tinggi dari MV ini adalah sinematografinya. Secara keseluruhan bagus, hanya minor di beberapa bagian. Tidak terlalu gelap lagi seperti Boku no Shoudou.

Beberapa kali Kokuhaku no Junban menggunakan aspect ratio 4:3 terutama untuk adegan orang pertama yang diambil Reika, atau diambil dengan handycam. Aku tidak tahu apa handycam masih ada versi modern sekarang? Yang pasti, ini menambah estetika MV ini.

Tapi toh nilai positifnya berhenti di sini saja. Dari segi dance, well, susah untuk bilang kalau ini bisa jadi koreo favoritku. Untungnya, dance scene disini lumayan banyak ditampilkan, jadi bisa dilihat kapan saja kalau butuh nostalgia.

Her true, last one shot

Well, setelah Kuchiyakusoku, Jinsei wo Kangaetaku Naru, dan kini Kokuhaku no Junban, selesailah perjalanan unit ini. Dan dari ketiganya, Kuchiyakusoku masih jadi lagu favoritku. Untuk review lagu Kokuhaku no Junban, tunggu saja review penuh dari singlenya.

Sementara dari segi MV, ini adalah MV yang paling membuat spechless. Terlalu banyak kekurangannya, kalau dilihat dari segi storyline yang sebenarnya cukup kuat. Terutama dari akting yang lebih datar dari Tsuzuku dan scene-scene yang terlalu dorama.

Selain itu, timeline yang terlalu cepat membuat storyline kurang bisa dinikmati. Ya “chapter” itu yang kumaksud, hanya beberapa detik lalu lompat ke chapter selanjutnya. Overall, aku tidak bisa bilang aku suka dengan Kokuhaku no Junban karena tidak pergi ke arah serius atau komedi, malah mengambil jalan tengah dengan hasil yang….

All images and videos used is credited to it’s respective owners

18 Replies to “Sakamichi Review : Kokuhaku no Junban”

  1. Nogizaka D. Luffy says: Reply

    Entah ini gw yg salah atau mmg ada jiwa S yg tertinggal dari Nanamin
    waktu scene yumi kena lemparan bola, sumpah gw ngakak berat g bisa berenti 😀

    Kalau dari MV secara storyline bagus sih sesuai dgn kondisi aslinya.. lagu terakhir dari unit ini
    pentas terakhir, hilang ingatan, tp untung tdk ada anak yg tertukar

    Tp jujur dr MV ini ada beberapa hal membuat agak terganggu :
    – akting yg kurang (padahal ada reika ratu akting & yumi ratu stageplay)
    – perpindahan dari view biasa ke handycam view atau sebaliknya
    – CG bola yg ditangkap yumi

    buat pencinta yumi no offense ya..

    1. Ane pas liat scene itu, mikir “dorama apa aja yang punya adegan model gini” 😀

      Storyline bagus tapi eksekusi yang kurang, kurang banget. Tapi ini bukan satu-satunya MV yang mengecewakan dari single ini. Masih ada Nichijou yang lagi proses.

      Offense? I’m offended. Why the fuck they didn’t cast Hashikun here?!?! For God Sake! 😀

  2. Terparah sebelum Nichijou ini sih, storylinenya sederhana tapi kaya ga ada klimaksnya

    Warna/tone mv sama dance scene jadi point positif 🙂

    Negatifnya, aktingnya ini mereka serius akting apa gimana, keliatan ga niat apalagi pas yumi kena bola.
    Diantara semua point negatif, yg bikin penilaian ane jatuh ya cg bola yg ditangkep. Please, emang ga bisa dibikin asli aja kenapa? Padahal cuma nangkep bola 😀

    Udah deh gak baik juga terlalu mengkritik, simpan kritikan untuk yg satu lagi 😀

    1. Datar aja, lempeng. 😀

      Kayanya lebih niat aktingnya buat variety 😀
      Mungkin sutradaranya ngincer kerjaan di Indonesia 😀

      Makin parah ya 😀

  3. itu adegan yg dia tangkap bola… gua ngakak bgt anjir
    gk nyangka loh bakal pakai CG yg kyk gt wkwkwk

    dr segi lagu atau MV nya iyaaaa g gk bsa banyak komen sepertinya wkwkwk

    1. Sutradaranya lulusan Indonesia kali 😀

      Telen aja udah, makanya cari alternatif rilisan lain 😀

  4. Yg gak bisa diterima dri MV ini buat ane pribadi adl….. BOLA CG?!!!! Oklah utk adegan yg kena kpla Yumi, tp yg utk adegan nangkep bola?!
    Yumi bukan Ikoma yg takut nangngkap bola, brp sih harga bola, masak segitu pelitnya, klo pun gak mau beli ya pinjem kek, paling staf atau bahkan mmber ada yg punya, malah pake CG, ngakak ane liatnya 😀

    Yg bisa dinikmati dri MV ini cuma kostum nya, bagus 😀

    1. Biarkan ini jadi misteri yang lebih gede dari kenapa buah kalau dikasih air bisa meledak 😀

      Kostumnya siapa nih? 😀

  5. Miris juga, bolanya kayak naga terbang tv ikan terbang.
    Klimaksnya ibarat nunggang motor matik mogok pas di tanjakan, ya nurun.
    Ah, all-girls school quartet, riwayatmu kini, tinggal trio.
    Emang masih mending kuchiyakusoku atau jinsei wo kangaetaku naru sih.
    Penutup, citra majime-nya Waka nggak akan lekang dimakan waktu. Bener juga ada aja kenangan Sado si Nanamin.

    1. Sayangnya, image majime ini ternodai sama bola yang model kaya begini 😀

  6. Anggap aja kalo pake bola asli, amnesia beneran. Kan nggak lucu.

    Miris aja citranya itu ditutupi dengan receh ginian.

    1. Masalahnya pas di scene yang kena bola, itu udah keliatan real, kenapa di selanjutnya malah kaya gitu 😀

      Receh receh receh 😀

  7. Buah bisa meledak bukan hal yg mustahil krena ada Lord disana, lah ini? CG?

    Ya semuanya, kostumnya mngingatkan dgn kostum Cinq Étoiles yg jg punya kostum serba putih 😀

    1. Ente tanya soal hal yang udah ente jawab sendiri 😀

      Curhat? Nostalgia? Meratapi nasib? 😀

  8. Memperjelas saja 😀

    Galau, krn blm rltau pasti nasib tuh unit 😀

    1. Mempertanyakan kuasa Lord 😀

      Bubar bubar, #2019 unit baru 😀

  9. 😀

    #2019UnitPurinkai 😎

    1. #2019 yang pasti2 aja 😀

Leave a Reply