Is it Time for a Tech Detox?

No idol stuff for this one. Bold and underlined that. Karena sesuai judul, kali ini aku ingin membahas tentang tech detox dimana kehidupan digital sudah sangat membuat stress. I mean, a whole lot stressful than we could manage. Never-ending damn notifications, endless scrolling of feed, talking with bots, and of course, the allmighty ruler of internet, the netizen.

Siapa dari kalian yang mengecek ponsel satu detik sebelum dan setelah bangun, mengecek social media feeds? Atau menekan tombol power setiap beberapa menit sekali untuk melihat apa ada notifikasi yang terlewat atau tidak? Membuka promo-promo tidak penting yang muncul dari online shop? Well, banyak yang bernasib sama.

And that’s not good for whatever reason. Sekarang ini memang kita tidak bisa lepas dari internet of things. Kenapa bukan smartphone? Karena memang tepatnya, kita tidak bisa lepas dari internet. Dapat berita dari mana kalau bukan dari internet -termasuk yang hoax- messenger chat, juga dari internet. All in the clouds and we couldn’t break from it.

Email soal pekerjaan dan lain-lain yang bersifat urgensi jelas butuh waktu paling cepat untuk sampai di tangan kita. Dan tanpa disadari pola pikir begitulah yang paling membuat stress, apalagi kalau kita tidak bisa menyortir mana yang bersifat “urgen” dan “tidak” banyak orang tidak bisa melakukan hal ini.

Ketergantungan pada teknologi ini tanpa disadari sangat tidak sehat, baik secara fisik maupun mental. Jangka pendek saja, mudah lelah, mata yang capek, gangguan tidur, dan permasalahan sosial menjadi hal yang umum ditemui. Jangka panjangnya jelas lebih jelek. Tapi, tidak semua sesuatu yang berhubungan dengan smartphone itu bisa langsung dikategorikan jelek.

Contoh, mereka yang doyan main game atau belanja online, tidak bisa dikategorikan kecanduan internet. Lebih tepatnya, medium dimana mereka menyalurkan kecanduan mereka adalah smartphone. Jadi mereka bukan kecanduan smartphone, melainkan hanya karena itu alat yang bisa memuaskan kecanduan mereka.

Karena itu terms “internet addiction” & “smartphone addiction” sebenarnya berbeda. Yang bisa dikategorikan internet addict, jelas adalah sosial media, karena tidak ada padanan offline. Semua jenis media sosial menarik kita untuk terus mengecek notifikasi dan feeds. Alasannya mayoritas sama, yaitu tidak ingin ketinggalan berita “terbaru” dan merasa terkucil kalau terlambat mengetahui sesuatu.

Well, memang benar. Rasanya jadi tolol kan kalau terlambat tahu soal topik yang sedang paling hangat? Well, tidak. Di era dimana informasi semakin cepat seperti ini, justru malah informasi disampaikan asal cepat, faktual atau tidak urusan belakangan. Iya atau tidak? Jadinya malah keliatan tololnya seperti kasus yang baru saja bikin heboh satu negeri dongeng belakangan ini.

Teknologi semakin smart, penggunanya yang semakin dumb.

Umumnya, kita membutuhkan 8 jam waktu tidur yang cukup. Tech addiction sudah merubah jam biologis ini. Berapa lama kalian tidur tiap harinya? Aku yakin diatas 90% akan menjawab kurang dari 8 jam, including myself. Dan jelas, alasannya banyak karena tech addiction. Kalau butuh alarm untuk bangun tidur atau merasa lelah di pagi hari, itu tanda-tanda jelas.

Pola makan tidak teratur, olahraga kurang dari 30 menit per hari, juga menjadi tanda kalau kita butuh tech detox. Memang sih, kalau hanya faktor-faktor ini bisa jadi alasannya hanya karena malas, tapi malasnya itu pasti dibantu dengan preferensi untuk membuka smartphone atau netflix & chill ketimbang aktivitas lain. Berapa jam kita menggunakan internet & gadget per hari bisa jadi indentifikasi yang bagus.

Memang, tech detox tidak bisa dilakukan semua orang. Banyak peneliti yang mengatakan kalau tech detox malah lebih susah dari rehabilitasi alkohol atau narkoba. Biasanya, 72 jam pertama itu yang paling berat. Setelah menyalakan smartphone lagi, notifikasi yang tidak ada habisnya akan menuntut untuk diberi perhatian. Bisakah kita mengabaikan hal itu? In a sense, way too irresistable.

View this post on Instagram

2 days of #dumbphone and it's refreshing

A post shared by mac.orion (@mac.orion) on

Tapi bukan berarti tidak bisa dicoba. Untukku, beberapa hari terakhir, aku mematikan semua notifikasi dari smartphone bahkan untuk urusan pekerjaan, membawanya kemana-mana hanya agar mudah dihubungi. Sementara itu, sebagai daily driver, aku memakai kembali BlackBerry di 2018. This is some kind of a #dumbphonechallenge but also an internet detox for me.

Bukan berarti BlackBerry tidak punya internet, tapi menggunakannya di layar yang hampir separo lebih kecil dari smartphone biasanya jelas bukan pengalaman menyenangkan. Jadi, lebih sedikit keinginan untuk surfing. Selain itu, tanpa aplikasi sosial media yang berlimpah -hanya ada Twitter dan Facebook, itupun tidak kupakai- WA, Line, dan lain-lain, dan siapa juga yang masih pakai BBM di 2018?

Tidak ada JOOX atau online shopping, justru malah membuatku sadar tidak banyak yang bisa dilakukan oleh aplikasi-aplikasi itu selain membuang uang. Tidak ada Nogifes juga, itu yang paling terasa. But I did miss some like Google News, Flipboard, smartwatch apps, ebook reader, and of course, WordPress. Karena itulah aku masih membawa-bawa Android kemanapun.

Meninggalkan smartphone selama beberapa saat, merasakan sesuatu yang berbeda itu sangat membantu. Tidak semua orang itu tipe outdoor, senang bersepeda atau hiking, yang mana sangat berguna melewati waktu dalam tech detox. Tipe orang yang indoor pun sebenarnya bisa melakukan aktivitas seperti membaca atau melukis, this is what I did in my spare time these days.

Intinya, melupakan smartphone atau kalau bisa, internet selama beberapa saat adalah sesuatu yang baik untuk kesehatan, fisik maupun mental, juga kehidupan sosial. Karena untuk kebanyakan orang, teknologi itu lebih seperti candu. Perokok atau alkoholik contohnya, mereka tidak bisa menikmatinya tapi lebih karena kebiasaan. I did stop smoking, and I didn’t see why I couldn’t reducing my tech addiction from now on. Try it, it’s worth your time.

Sebagai tambahan, ini tips untuk tech detox tanpa harus meninggalkan smartphone;

  1. Pelan-pelan kurangi hasrat untuk mengecek notifikasi. Cobalah 15 menit sekali, lalu tambahkan sedikit-sedikit.
  2. Download aplikasi monitoring tentang berapa lama penggunaan smartphone
  3. Coba untuk membuat area tempat tidur jadi bebas-smartphone
  4. Bersihkan kontak, atau lebih mudahnya, prioritaskan mana yang lebih penting
  5. Jangan tergoda untuk langsung membuka notifikasi saat ada pesan masuk

All images and videos used is credited to it’s respective owners

15 Replies to “Is it Time for a Tech Detox?”

  1. Ane paling kuat hidup tanpa internet + smartphone itu cuma sehari. Itu pun gara2nya ane jengkel bgt sama org2 di sekitar ane. Hp ane matikan sehari. Kebetulan waktu itu pas libur. Jadi kerjaan ane cuma tiduran sama baca2 buku. Dan emg jauh dari gadget itu enak banget. Sama enaknya kaya tidur siang. 😀
    Tapi ane emang masih perlu trigger buat bisa jauh dari gadget. Kalo gak, ane ya gak bakalan bisa jauh dari twitter, youtube, dsb.

    1. Tanda2 tuh, mulai kurang2in deh 😀

      Atau coba #dumbphonechallenge, lebih enak dan gak perlu resiko lost contact 😀

  2. Boleh jg tipsnya. Kyknya pernah sehari bahkan seminggu gak maen internet, waktu mudik lebaran n fokus nlepas rindu sma sanak sausra dikampung.

    Tp spertinya tipsnya gk bisa diterapin dlm waktu dekat, bakal banyak berita rilisan sih 😀

    1. Yakali waktu lebaran dihitung pak, di waktu normal dong 😀

      Banyak berita rilisan=kerja paksa nogifes? 😀

  3. Klo waktu normal gak pernah kyknya 😀

    Waktu2 yg sibuk n HP dah serasa nempel kyk perangko 😀

    1. Makanya cobain 😀

      Udah waktunya dikirimin tuh 😀

  4. Baru smalam coba tech detox 2 jam.
    .
    .
    .
    .
    .
    Lantaran 1+2 gangguan 😀

    1. Wah luar biasa, patut diapresiasi
      ….

      ..
      bata mana bata? 😀

  5. Smalam ane tech detox lagu, kurng lbih satu jam.
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    1+2 gangguan lagi 😀

    Bata gak ada, batu kyk rumah patrick mau? 😀

    1. Mau lagu atau film sih, bodo amat pak 😀

      Bolehlah, kan buat ente juga 😀

  6. Bingung ane kok tiba2 ente bhas lagu atau film, kirain ente mabuk, tak taunya gra2 komen ane sebelumnya yg tipo, seharusnya “lagi” bkan “lagu” 😀

    Oh utk ane, gak ush klo gtu, dah punya 😀

    1. Itu tau kan kalo sendirinya raja typo 😀

      Sering ditimpukin ternyata 😀

  7. Alhamdulillah, ane ga pake social media dan ga ngikuti portal berita. Jadi ga ada notifikasi yg mengganggu. 😀

    Mungkin yg perlu ane kurangi youtube dan online manga. 😀

    Nogifes, masih dalam batas aman, kecuali pas ada event. 🙂

    1. Portal berita yang kaya gimana dulu nih? 😀

      Sama aja distractingnya itu 😀

      Aman? Aman? Pffft 😀

  8. 😎

Leave a Reply