Mallory Irvine Unfinished Quest

Sir Edmund Hillary akan selalu dikenang sebagai orang pertama, dengan sherpa Tenzing Norgay sebagai penakluk puncak tertinggi di Bumi, Everest pada 1953. Tapi jalan Hillary tidak dibuat dengan sekali jalan dan langsung sukses, banyak unfinished quest yang terjadi sebelumnya.

Banyak orang yang sudah mencoba menaklukkan Everest sejak awal abad 20, dan mereka tidak pernah berhasil. Tapi ekspedisi-ekspedisi itu sering membawa cerita dan rute baru menuju puncak untuk dibawa pulang.

Edmund Hillary sendiri berpartisipasi dalam banyak ekspedisi sebelumnya, termasuk Mount Cook di New Zealand dan beberapa ekspedisi Everest sebelum 1953. Tenzing pernah berjarak hanya 240 meter dari puncak bersama tim ekspedisi Swiss pada 1952.

Tim ekspedisi Everest 1953 pun diisi oleh pendaki berpengalaman, Hillary mendapat support yang bagus. Tapi, kali ini tokoh utamanya bukan Hillary, melainkan pendaki Everest lain, tiga dekade sebelum Edmund Hillary menaklukkan Chomolungma.

Satu kisah pendakian Everest yang paling terkenal adalah pendakian 1924, yang membawa Leigh Mallory dan Andrew Irvine sebagai pendaki Everest paling terkenal yang tidak pernah mencapai puncak. Ya, 29 tahun sebelum Edmund Hillary berdiri di puncak, Mallory dan Irvine hanya berjarak 800 meter dari puncak, setidaknya itulah fakta terakhir.

Pendakian 1924 adalah yang ketiga bagi Mallory, dan yang pertama mencoba untuk mencapai puncak. Sebagai salah satu pendaki populer, Mallory dan Irvine ditemani oleh Noel Odell, Edward Norton, Howard Somervell, dan Geoffrey Bruce. Tim ini mencatatkan rekor ketinggian 8570 mdpl pada ekspedisi 1924.

Begitu terkenalnya kisah Mallory dan Irvine, Jon Krakauer menulisnya di buku Into Thin Air dan sempat difilmkan pada 1997. Nah, mungkin sudah banyak yang bertanya-tanya kenapa kisah pendakian “gagal” seperti ini bisa begitu populer?

Kembali ke awal abad 20, penemuan menjadi kata kunci. Dari penemuan makam King Tut oleh Howard Carter, penemuan Macchu Picchu, dan banyak lagi. Tapi juga tidak jarang yang gagal, seperti Mallory dan juga pencarian Z oleh Percy Fawcett -ya, film The Lost City of Z itu didasarkan kisah nyata-

Penemuan sepadan dengan keberhasilan. Termasuk diantaranya Everest, puncak tertinggi di Bumi yang belum pernah berhasil didaki siapapun sampai puncak sebelum Edmund Hillary. Nah, Mallory & Irvine hanya mencatatkannya sebagai unfinished quest.

Karena apa? Mereka tidak pernah sampai puncak, meski tercatat salah satu yang paling dekat sebelum Hillary. Kenapa mereka gagal? Karena mereka menghilang dari pandangan pos pantau VI pada 8 Juni 1924.

Pada 1-2 Juni, percobaan pendakian puncak dilakukan oleh Mallory dan Bruce, hasilnya gagal. 2-4 Juni rekan satu pendakian, Norton dan Somervell mencoba juga dan gagal hanya 280 meter dari puncak. Percobaan ketiga oleh Mallory dan Irvine berakhir dengan hilangnya mereka.

Hilang. Into thin air. Pada 7 Juni, Mallory dan Irvine mengirim sherpa untuk memberitahu tim di pos pantau VI kalau mereka akan mencoba puncak keesokan harinya. Disinilah mereka menghilang, tidak pernah terlihat hidup-hidup lagi. Ekspedisi 24 kembali ke Inggris membawa berita duka ini.

Baru pada 1999, hanya berjarak 150 meter dari puncak, sekelompok tim ekspedisi yang ditujukan untuk mencari tahu, atau jejak apapun yang tersisa dari Mallory dan Irvine, mendapat jackpot. Mereka menemukan tubuh membeku, terawetkan permafrost sejak 1924.

Tubuh yang membeku itu mengenakan pakaian dengan bordiran G. Mallory, nama panjang George Herbert Leigh Mallory. Masih dengan tali di pinggangnya, yang menyatukan dua pendaki agar tidak terpisah malah menjadi petaka bagi keduanya.

Bukti di lapangan menunjukkan bahwa Mallory jatuh dari ketinggian fatal saat masih terikat dengan Irvine. Patah kaki, luka di kepala, dan beberapa cedera lain menunjukkan bahwa Mallory mati seketika. Irvine, sementara itu bertahan dan memutus tali penghubung untuk meneruskan ceritanya.

Dan sayangnya, Irvine juga hilang ditelan puncak Everest. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Yang paling disesalkan tentu, hilangnya kamera yang mungkin memotret keberhasilan Mallory dan Irvine menaklukkan Everest. Kamera ini, kemungkinan dibawa Irvine sebagai bukti, tapi akhirnya hilang untuk selamanya.

Kisah Mallory dan Irvine, unfinished quest mereka dalam menaklukkan Everest, hilang di puncak dunia. Chomolungma bukan tempat yang mudah bagi mereka yang lemah, bahkan bagi pendaki berpengalaman seperti Mallory.

Tentang berhasil atau tidaknya Mallory dan Irvine menaklukkan Everest, masih menjadi perdebatan. Tidak ada bukti apapun, termasuk kamera yang hilang, yang bisa membuat nama Leigh Mallory sebagai orang pertama yang berdiri di puncak dunia.


These Are The 12 Girls Leading The “Produce 48” Rankings After Episode 3

Nah, tentang unfinished quest, batas antara berhasil atau tidaknya seseorang hanya bisa diterima jika ada bukti. Tidak ada bukti, tidak ada keberhasilan. Hal ini sama dengan bagaimana kita, atau yah, aku, memandang Produce 48.

Oke, harus kuakui aku sedikit merubah materi artikel ini menjadi ke arah Produce 48 karena aku tidak melihat banyak orang yang membicarakannya, terutama dari kos sebelah. Tidak ada wadah? Killjoys. Aku sudah membuat forum dan masih belum banyak yang tahu, kupikir.

Tapi memang konsepnya sama. Produce 48 mencari 12 orang terpilih, betapapun bagusnya kualitas trainee itu tidak akan dihitung jika mereka tidak terpilih. Orang ingat Produce 101 season 1=I.O.I, season 2=Wanna One. NUEST W? Contoh paling terkenal yang tidak bisa debut sebagai Wanna One ini jelas tidak bisa dihitung.

Sama saja dengan mengatakan “member 48G berhasil masuk top 12 tidak ada gunanya juga, toh mereka sudah debut” well, mungkin yang bicara begini belum menonton Produce 48 atau memang hanya punya emosi selebar sendok teh.

Well, oke, evil editing Mnet itu sudah rahasia umum, tapi kalau tahu betapa besar pengaruh Produce, ini jelas tidak bisa dianggap seremeh itu. Kalau tidak, kenapa idol selevel Kaeun yang member Afterschool mempertaruhkan kelanjutan karirnya di ajang ini?

Atau Sakura, Jurina, dua orang yang menjadi A-list idol sampai ikut serta acara di negeri tetangga? Alasannya sama. Trainee populer atau noboby, yaitu mencari kesempatan. Semua ingin menjadi Edmund Hillary, bukan Leigh Mallory.

Cruel fate, every single out of 96 eyeing the top spot, only 12 will survive. Menjadi top 12 akan membuat siapapun terjamin karirnya selama paling tidak dua tahun, durasi kontrak pemenang Produce 48. Setelah itu, well, berkaca dari sebelumnya, yah….. paling jelek medioker.

Bagaimana dengan mereka yang gagal masuk top 12? Tidak perlu kukatakan lagi. Unfinished quest, berpartisipasi di ajang ini hanya akan menjadi sedikit nilai tambah bagi CV mereka. Memang tidak menutup kemungkinan, tapi persentasenya jauh lebih besar bagi mereka yang dari pihak Korea.

Kenapa? Karena mustahil agensi Korea mau mengontrak member aktif 48G kecuali dia graduate. Dan begitu kembali ke Jepang, katakanlah member seperti Miyu hanya ada di peringkat dua puluhan misalnya, apa itu akan membuatnya populer? Bisa bersaing di SSK? Memiliki kesempatan outside job yang lebih banyak? Big NO.

Memang tidak fix 100%, tapi kurasa tidak butuh bola kristal juga untuk meramal itu. Tidak peduli setinggi apa peringkat akhirnya, selama tidak masuk top 12, member 48G, terutama yang tidak populer, mereka akan menjadi Mallory dan Irvine.

Ajang seperti Produce 48 ini memang hanya hiburan. Apalagi drama. Drama, I’m lovin it. As much as McD’s. Tapi perlu dilihat juga, tentang bagaimana pentingnya program ini dalam karir seorang idol.

Intinya, perjudian besar. Antara berhasil atau terkubur. Bagaimana pendapat kalian?

All images used is credited to it’s respective owners

Leave a Reply

2 Replies to “Mallory Irvine Unfinished Quest”

  1. wapitunamaku says: Reply

    lah, kaga laku apa gimana ini lapak? biasanya lapak diserbu para om2 serigala hihihihi

    1. Mungkin yang demen produce bisa jawab 😀

Leave a Reply