Horror of the Black Death

Satu hal bisa merubah sejarah dunia. Termasuk diantaranya pengabaian. Atau tidak dihiraukan, tidak dipedulikan, abandonment. Inilah yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan, di tragedi paling banyak memakan korban jiwa di masa itu; Black Death.

Black Death adalah wabah yang disebabkan bacillus Yersina Pestis, yang baru bisa ditemukan pada abad 19. Bacillus ini menyebar lewat udara, serta gigitan serangga dan tikus yang terinfeksi, dua binatang yang umum ditemui di abad pertengahan.

Dan pada abad pertengahan, penanganan penyakit jelas masih jauh dari kedokteran modern, dan hal mistis tidak bisa dilepaskan dari sindrom Black Death. Pada dasarnya gejalanya sendiri cukup untuk dianggap sebagai ilmu hitam.

Pertama dari kesulitan bernafas, bintik-bintik dan ruam, demam tinggi dan muntah darah. Sampai pada busuknya daging sampai berwarna hitam. Inilah asal mula nama Black Death.

Wabah ini membunuh 8 dari 10 orang di beberapa komunitas yang kurang beruntung. Bukan hal yang aneh kalau ibu, ayah, anak, istri, saudara, atau siapapun juga meninggalkan seseorang yang divonis terkena wabah Black Death.

penyebaran black death.

Di 1355, penulis Giovanni Boccaccio menulis tentang wabah yang sedemikian mengerikan untuk dibaca bahkan sampai saat ini. Di akhir 1340, Black Death sebagaimana dideskripsikan Boccacio dalam Decameron;

“menimbulkan ketakutan dan membuat yang masih hidup menciptakan fantasi mengerikan atas wabah ini. Semua orang mengambil setiap tindakan yang dimungkinkan, perlu atau tidak, untuk menghindari atau kabur dari siapapun yang terjangkit

Hal ini tertanam di benak setiap orang dan membuat teror. Semuanya saling menghindari, bahkan sesama keluarga, apalagi terhadap penderita. Yang paling luar biasa, ada fakta bahwa orangtua menolak untuk merawat anak mereka seperti mereka tidak pernah ada”

Black Death mengklaim sepertiga populasi Eropa di tingkat tertingginya, butuh waktu 200 tahun untuk mengembalikan populasi seperti saat sebelum wabah menyerang. Ini baru menghitung fisik, belum secara mental.

Trauma yang disebabkan pada mereka yang selamat terbilang ekstrim. Banyak yang “menghukum” diri sesuai ajaran Kristiani, diskriminasi pada kaum minoritas juga mencapai puncak. Kaum Yahudi dituduh sebagai biang kerok dari Black Death.

Germania Judaica menulis setidaknya 235 komunitas Yahudi dimusnahkan, dalam arti literal, saat itu. Tapi ini belum apa-apa dibanding teror abandonment seperti dikatakan Boccaccio. Yang masih sehat kabur sebisa mungkin dari wabah ini, bahkan jika itu berarti meninggalkan keluarga mereka sendiri sekarat.

Faktanya, abandonment ini terjadi sejak wabah pertama menyerang. Friar Michelle la Piazza dari Sicilia mengabarkan “tidak ada pendeta, bahkan anggota keluarga, yang berani untuk menguburkan yang meninggal, bahkan untuk masuk rumah sekalipun”

Cerita seperti  “Aku akan mencari dokter” dari anggota keluarga kepada penderita seringkali berakhir dengan mereka mengunci pintu dan tidak pernah terlihat lagi oleh penderita. Ya, terdengar berlebihan, bahkan sejarawan tidak semuanya sepakat dengan kebenaran dari Black Death.

Dance of the Death

Seringkali mereka berargumen bahwa ceritanya terlalu didramatisir, bahwa meninggalkan seseorang seperti mereka hanyalah barang rusak tidak masuk akal bagi semuanya, apalagi terjadi di seluruh Eropa. Tapi, perlu diingat sesuatu.

Di era sebelum Gutenberg menemukan mesin cetak, mustahil cerita seperti ini bisa menyebar ribuan kilometer dan dalam hitungan hari, mulai dari pantai Kroasia sampai jantung kota Paris. Dan ceritanya juga tidak hanya satu seperti contoh yang kutulis, melainkan bervariasi.

Alasan lain kenapa mungkin saja ini didasarkan kisah nyata adalah, setelah 1348, semua cerita itu menghilang. Black Death terjadi pada 1347-1351, jadi bisa jadi semua horor itu diambil saat awal-awal wabah menyerang.

Pada 1405, di Padua terjadi wabah yang mirip dengan Black Death dan “setiap hari kuburan digali dan 200-300 orang dimakamkan massal. Tangisan dari mereka yang masih hidup bisa terdengar di surga”

Efek dari Black Death membuat horor akan wabah penyakit terdengar lebih mengerikan. Tapi di wabah Padua, tidak ada cerita akan abandonment, melainkan tangis dan duka. Jadi, kenapa, pasca-1348 kisah tentang Black Death menjadi berbeda?

Mudah saja, perubahan pada masyarakat, tentang bagaimana sistem sosial merubah pandangannya tentang mengatasi wabah ini. Setelah bulan-bulan awal dan shock akan tingginya tingkat kematian orang-orang berpikir bahwa tidak ada tempat untuk lari dan sembunyi.

Mereka yang masih hidup berusaha sebisa mungkin untuk mengatasi wabah ini, dan di akhir Black Death, ceritanya bukanlah lagi tentang ketakutan, kebencian, dan abandonment. Melainkan tentang charity & preservation.


Black Death adalah turning point dalam sejarah dunia. Efek yang ditimbulkannya dari segi sosial sampai dinamika kemajuan zaman. Jumlah korban yang ditimbulkan berkisar 50 juta jiwa.

Ini melebihi jumlah korban PD II, dua kali lipat korban yang ditimbulkan rezim Joseph Stalin, sekitar 60% populasi Eropa. Di era sebelum senjata modern datang, ini adalah bencana non-alami terbesar dalam sejarah manusia.

Membicarakan abandonment, dimana ini menjadi faktor penentu banyaknya korban jiwa. Ketidaktahuan lebih berperan dalam hal ini menurutku, dimana hal inilah yang membuat orang jadi mengabaikan orang lain.

Let’s say, it’s like we never put ourselves in other’s shoes. Ada kata-kata yang cukup sering kulihat di feed atau timeline sosial media belakangan ini; yaitu tentang orang yang sulit bilang “pandanganmu ada benarnya, aku harus belajar lebih banyak” ignorance.

http://dailyutahchronicle.com
ignorance is not bliss

Well, aku tidak akan bicara banyak soal ini, karena ini adalah gambaran yang sesuai untuk masyarakat sekarang. Tidak semuanya tentu, aku tidak akan bilang yang mana yang kumaksud. Dari penggambaran abandonment saat Black Death diatas, kupikir semuanya paham.

Tidak? Well, aku tidak mengatakan ini pada mereka yang menderita di Eropa abad pertengahan, tapi mindset orang-orang modern yang tidak lebih maju dari saat dimana saat witch hunt menjadi populer.

Ya, sejujurnya, ini seringkali terjadi seperti lingkaran setan, apalagi jika membahas tentang politik. Duh. Dua kubu, sama-sama binatang, gak ada akurnya. Konklusinya? Ignorance.

Itu satu contoh. Yang lain, religion. Well, aku sih tidak ambil pusing ya, karena prinsipku adalah Perfect Symmetry, tapi ya itu loh, selalu ada orang yang merasa paling benar, atau memang netizen yang maha benar?

Kali ini tidak ada soal idol, maaf-maaf saja. Aku terlalu eneg dengan bagaimana abandonment & ignorance sudah masuk ke kehidupan sosial yang nyata, bukan sekedar internet. Like, WTF?

https://keimiller.files.wordpress.com
MLK was right

Di internet, kita bisa mengabaikan, atau malah menertawakan badut yang memang layak dihormati dengan menertawakannya. Tapi jika sudah di dunia nyata, jujur saja, ilfeel gak sih?

Apalagi ini momen yang tepat, well, semua kurasa sudah tahu dengan situasi besok, atau hari ini, atau kemarin tergantung kapan kalian membaca artikel ini, tentang even demokrasi nasional? Kebetulan daerahku juga ikut serta kali ini.

Muak melihat ini dan itu saling serang dan saling membela, padahal mereka juga gak ngaruh-ngaruh amat di hidup loe juga. Ingin rasanya bilang begitu, dan sudah kulakukan dan itu melegakan.

Yah, aku tidak bilang aku mendukung yang mana, atau memberikan pandangan politikku. Yang pasti, di dunia modern ini, jika ignorance terus ada, mungkin hal serupa Black Death akan terulang lagi.

Oh, tentu tidak dalam bentuk penyakit fisik, tapi penyakit hati yang…. apakah harus kuingatkan, “kata-kata lebih tajam daripada pedang” I don’t think so.

What about you? Stay ignorant or change? Cause in this age, ignorance are choice.

All images and videos used is credited to it’s respective owners

Leave a Reply

17 Replies to “Horror of the Black Death”

  1. Anakamirikaru says: Reply

    Maaf2 aja min klo komen ane soal ini,singkat, padat, namun gk jelas. Gak Ikutan 🙂




    1



    0
    1. Ckckck, dasar pemuda tua yang…. 😀




      1



      0
      1. Anakamirikaru says:

        Lagian ente pake bhas soal bginian 😀

        Wih, ada jempol2nya 😀




        0



        0
    2. Anakamirikaru says: Reply

      Dah 2 x komen tp gak liat wujudnya, masuk gak sih?




      0



      0
      1. Ya masa sih mau gak mikir untuk selamanya 😀

        Giliran satu plugin bisa, anti-spam yang error. Kamvret.




        0



        0
      2. Anakamirikaru says:

        Ikut mikir jg gk ada faedahnya, nambah2 beban hdup aja 😀

        Dah ane bilabg, minta dimandiin kembang tuh sekalian sma yg punya 😀




        0



        0
      3. Beban hidup ente udah terlalu berat ya? Sampe mikir yang lain gak kuat 😀

        COba gih wordpress, jangan yang .com tapi 😎




        0



        0
      4. Anakamirikaru says:

        Nah tuh tau, mancing2 ane aja ente TT

        Klo ente mau bayarin biaya, ok ane coba 😀




        0



        0
      5. Makanya, relakan Nay sama Take Ryoma 😀

        Dih, yang paling murah aja gak sampe 50K sebulan, mendingan ini daripada ente beli indomi mulu 😀




        0



        0
      6. Anakamirikaru says:

        Yg jd msalah tuh, Nay rela gak ninggalin ane hanya utk sesosok Ryoma? 😎

        50k dah dpt sedus indomie tuh, bsa nyambung hdup buat 2~3 minggu 😀




        0



        0
      7. Tzu dikemanain pak? 😀

        Sungguh menggembirakan hidup ente 😀




        0



        0
      8. Anakamirikaru says:

        Dari Nay ke Tzu, mau dbwa kmn sih pmbhasan ini? 😀

        Pastinya 😎




        0



        0
      9. Ente maunya kemana? 😀

        Mau ngatain, tapi setahun lagi udah puasa 😀




        0



        0
  2. Anakamirikaru says: Reply

    Tnyakan pd rumput yg bergoyang 😀

    😀




    0



    0
    1. Rumput siapa yang mana yang bergoyang? 😀




      0



      0
  3. Anakamirikaru says: Reply

    Ribet amat bahasa ente 😀
    Rumput bng haji rhoma 😀




    0



    0
    1. Oh kirain…. 😀




      0



      0

Leave a Reply