I Lived in Perfect Symmetry

This life is lived in perfect symmetry
What I do, that will be done to me

Saat aku pertama mendengar Perfect Symmetry 10 tahun lalu, when I was really into rock, this one song is gold. Tim Rice-Oxley menulis lagu terbaiknya di album ketiga. Tak terasa sudah 10 tahun, dan percaya atau tidak, lagu ini tidak pernah absen di ponselku.

Perfect Symmetry adalah album kedua Keane yang kudengarkan penuh, aku pertama mendengar Under the Iron Sea. Tapi tentu saja, lagu mereka yang paling populer adalah Everybody’s Changing dari album pertama. Skip untuk Keane, karena butuh satu artikel sendiri.

But really, did any of you ever heard of Keane before?


Perfect Symmetry terpilih menjadi Best Album of the Year 2008, dan lagunya terpilih menjadi lagu terbaik. Untuk menjelaskan bagaimana lagu ini begitu bagus, dari segi musik maupun tema, aku akan menjelaskannya karena toh momennya tepat.

Epik dari lagu ini, sepeti yang dikatakan Tim Rice-Oxley adalah subyek yang gelap, tapi pesannya berisi pengharapan. Kepercayaan bahwa manusia bisa melahirkan sesuatu yang indah. Banyak orang yang sedang kesusahan tapi lagu ini diharap bisa menggerakkan orang-orang.

Lagu ini juga menunjuk pada pelaku bom bunuh diri yang saat itu juga menjadi momok. Pada The Sun edisi 3 Oktober 2008, Tim mengatakan “daripada meledakkan dirimu sendiri, kenapa tidak menghabiskan waktumu dengan orang yang dicintai dan menjadikannya kenangan indah”

Well, untuk memudahkan, ini dia lirik dari Perfect Symmetry, dan kubahas per bait. This is one of the greatest lyric, of all time. Sejak bait pertama pun, Tim Rice-Oxley sudah menunjukkan lirik yang menohok


I shake through the wreckage for signs of life
Scrolling through the paragraphs
Clicking through the photographs

Bagaimana lirik ini relevan dengan situasi saat ini sudah bisa dilihat sejak 10 tahun lalu. Media menggambarkan dunia seperti yang mereka mau, kita dihadapkan pada scrolling and clicks untuk melihat dunia.

I wish I could make sense of what we do
Burning down the capitols
The wisest of the animals

Manusia percaya kita menuju arah yang benar. Progresif, tapi benarkah demikian?

Who are you? What are you living for?
Tooth for tooth, maybe we’ll go one more

Lirik terkuat, tentang pertanyaan siapa kita dan untuk apa kita hidup. Ini juga menyangkut tentang jihadis -oh fuck, untuk apa ditutup-tutupi- tidak memandang apa agamanya. Dan lingkaran setan yang tidak pernah berhenti.

This life is lived in perfect symmetry
What I do, that will be done to me

Stating the very basic truth, nuff said. Apa yang kita lakukan, itu yang akan kita terima.

Read page after page of analysis
Looking for the final score
We’re no closer than we were before

Tidak ada kemajuan dari konflik. Semuanya menyampaikan apa yang ingin dan percayai. Tanpa mau mendengar pendapat dari pihak lain. Orang bisa berubah jika mau belajar, tapi kebanyakan tidak.

Who are you? What are you fighting for?
Holy truth? Brother I choose this mortal life

Sama seperti sebelumnya, pertanyaan tentang siapa diri kita. Tim memposisikan diri untuk menjadi ideal, dan inilah, sesuatu yang hilang dari kebanyakan.

(Mortal life) Lived in perfect symmetry
What I do, that will be done to me
As the needle slips into the run-out groove
Love – maybe you’ll feel it too

Love are cliche words. Tapi begitu kita melihat dari sudut pandang lain, merasakan empati, itulah dia. Aku sendiri melihatnya cukup menyinggung soal agama, yang tidak ingin kutulis saat ini.

And maybe you’ll find life is unkind
And over so soon
There is no golden gate
There’s no heaven waiting for you

Intinya, jangan mempercayai dogma semudah membalik telapak tangan. Aksi teror beberapa waktu lalu, ini juga menjadi tamparan. God himself, would He like you?

Oh boy you ought to leave this town
Get out while you can the meter’s running down
The voices in the streets you love
Everything is better when you hear that sound

Life is short, did you even know when you’ll met Him, if ever? Menghabiskan waktu membenci orang lain, memaksa menjadi Tuhan, sebodoh-bodohnya makhluk untuk menjalani hidup bukan?

Spineless dreamers hide in churches
Pieces of pieces of rush hour buses
I dream in emails, worn-out phrases
Mile after mile of just empty pages

Ya, orang-orang lebih memilih kenyamanan ketimbang kenyataan. Agama menjadi tempat berkumpul, dan meski kita harus percaya semua agama mengajarkan kebaikan, selalu ada ketidaktahuan yang terlibat. Di bait ini, referensi pada Gereja dan emails menggambarkan dunia maya.

Internet menjadi tempat dimana banyak informasi salah beredar, karena filter hanyalah berasal dari masing-masing individu.

Wrap yourself around me
Wrap yourself around me

Manusia adalah makhluk sosial. Di level paling rendah pun interaksi antar manusia dibutuhkan. Bukan menyudutkan orang introvert karena aku pun termasuk, tapi golongan yang membenci semuanya karena merasa tersisih dari dunia ini. Lirik ini adalah penggambaran tentang betapa desperate-nya mereka.


Mungkin ada yang berpikir ini adalah overdue article tentang kasus teror beberapa waktu lalu, tapi bukan. Ini adalah lagu yang bagiku tepat untuk menyambut hari terakhir Ramadhan bagi semua yang merayakan.

Kenapa? Karena Perfect Symmetry dengan liriknya adalah refleksi tentang kegilaan manusia yang semakin meningkat di 2018 ini, tidak lebih baik dari 2008. Kegilaan apa yang kumaksud? Tentu tidak berkaitan dengan idol, tapi bagaimana manusia semakin menjadi binatang.

Tidak perlu rasanya kutulis panjang lebar tentang itu, kecuali yang membaca artikel ini tidak pernah melihat berita nasional maupun internasional. Humanity, faith, religion, social, until the very lowest rank; politics. Seberapa banyak kita melihat berita positif yang diberi nada minor, atau sebaliknya? Hampir setiap hari.

Bulan suci Ramadhan bagi umat Muslim pun rasanya tidak membawa perubahan bagus bagi penganutnya. Well, aku harus jujur saja, bagiku faith≠religious, terdengar merendahkan agama ya? Lebih baik jujur. Akan kubiarkan kalian memanifestasikannya sesuka kalian.

Harapan agar menjadi lebih baik tentu saja selalu ada. Bukan hanya bagi diriku sendiri tapi bagi semua orang. I still have faith in humanity. Sekali lagi, aku tidak akan terlalu gamblang menjelaskan inti artikel ini seperti saat menulis The Pride.

Anyway, happy Eid Mubarak for all.

Happy Eid Mubarak

All images and videos used is credited to it’s respective owners

Leave a Reply

22 Replies to “I Lived in Perfect Symmetry”

  1. Anakamirikaru says: Reply

    Med nyambut idul fitri. Mohon maaf lahir batin. Moga bisa ketemu n kembali mnjalani bulan rmdahn thun depan.
    Moga sgla sesuatunya semakin menjadi lebih baik 🙂

    1. Udah gitu doang? 😀

      1. Anakamirikaru says:

        Jd mau bhas apa lagi pak?
        Mau bhas keadaan saat ini? Otak ane terlalu berkarat buat mikitin keadaan2 aneh saat ini 😀
        Intinya ied mubarak, moga segala sesuatunya menjadi lebih baik 🙂

      2. Apa ya, masa ane harus nulis lagi? 😀

        Berkarat kenapa? Gak punya duit? 😀

      3. Anakamirikaru says:

        Lagunya ane jg gak tau 😀

        Ente kbnyakan nnton acra lokal nih, dikit2 curhat 😀

      4. Kuper ah 😀

        Emang dasar in… 😀
        Gak bisa dikasih selentingan doang 😀

      5. Anakamirikaru says:

        Ane tuh tipe yg jrang eksplore, makanya ane tuh termasuk tipe setia 😎

        emang dasar, emang dasar, eh dasar kamu cacingaaaan… Wali song 😀

      6. Setia band? 😀

        Oh fans wali band juga ternyata 😀

      7. Anakamirikaru says:

        Gini2 masih cinta produk dlm ngeri 😀

      8. Produk dalam ngeri? Oh, hantu2 lokal demen pak? 😀

      9. Anakamirikaru says:

        Hantu lokal yg dulu2 suka, yg zaman now bikin ketawa pait n tepok jidat 😀
        Soal idol lokal, masih.. Masih berhrap yg terbaik buat mreka 🙂

      10. Wah ente gak ngikutin kayanya, zaman hantu mesum2 udah lewat pak 😀

        Yang terbaik tuh yang kaya gimana sih 😀

      11. Anakamirikaru says:

        Ntahlah, sejak hantu2nya bikin geli dah males ngikutin perkmbngan karya horor dlm ngeri 😀

        SUlit utk djelaskan dgn kata2 😀

      12. Gak menghargai karya anak negeri 😀

        Kalo gitu pake gambar 😀

      13. Anakamirikaru says:

        Kacaan dlu gih pak 😀

        Tar lah klo gtu, ane suruh si Tamami ngelukis dlu 😀

      14. Mau ane kasih bukti? 😀

        Kenapa harus Tama? Jangan2…. 😀

      15. Anakamirikaru says:

        Mana? 😀

        Knp ente harus menanyakan hal sperti itu? Jgn2….. Ente cmburu ya? 😀

      16. Yakin? 😀

        Anak buah tuh, anak buah, harus dijaga 😀

  2. Anakamirikaru says: Reply

    Yakinlah 😀

    Ah jgn2 ente lagi yg modua dgn pke alsan “anak buah” 😀

    1. Daripada ane bilang anak sayur ya mendingan anak buah dong 😀

  3. Anakamirikaru says: Reply

    Modus ente 😀

    *) gak tau ane bkal dmn letak komen ane ini, ane pwncet reply tp gk bisa

    1. Susah bener nyari plugin komen yang enak…

Leave a Reply