North Korea Hermit Kingdom

Sebelumnya, ini adalah artikel yang kukutip dari majalah Globerovers dengan judul yang sama, North Korea Hermit Kingdom. Ditulis oleh editor in chief Peter Steyn. Salah satu tulisan yang paling informatif sejauh ini tentang kehidupan di bagian utara dari semenanjung Korea yang digambarkan sebagai negara tertutup dan otoriter.

Satu kalimat pembuka dari artikel ini adalah gambaran bagus;

“Dari sudut pandang negara-negara yang sedang dalam atau telah hancur akibat konflik seperti Suriah dan Yaman, dan jutaan orang lain di dunia yang hidup di tingkat kemiskinan ekstrim, Korut adalah tempat impian. Mereka mendapat pendidikan, medis, bahkan indoktrinasi gratis sejak lahir.

Tingkat kejahatan di Pyongyang nyaris nol, dan meski bagi standar modern itu tidaklah terdengar glamor, kehidupan di Korut adalah berkah bagi jutaan yang bernasib kurang beruntung. Ada harga untuk itu, yaitu kebebasan. Belum lagi hukuman yang berat bagi pelanggar hukum, tapi itu sama dengan banyak tempat lain di dunia.”

Grand People’s Study House

Sebagai turis, Steyn hanya berkesempatan mengunjungi tempat-tempat terbaik di Pyongyang. Terdengar seperti propaganda? Well, aku ingatkan kalau kunjungan ke Korut diatur oleh pemerintah, dan semua pemerintahan di dunia akan menunjukkan sisi terbaiknya pada turis bukan?

Travel agency mana yang akan membawa turis ke daerah yang kurang beruntung, red district, atau tempat paling buruk yang bisa dipikirkan? Apalagi yang diatur oleh negara. Jadi, tidak ada alasan ini adalah propaganda kalau seluruh dunia juga melakukan hal yang sama. North Korea are just the same, just with a slightly dictatorship under the hood.

Lagi-lagi disclaimer, aku menulis ini dari sudut pandang setelah membaca tulisan Steyn, yang menulisnya dari sudut pandang orang pertama. Tidak seluruhnya benar dari segi politik, kultur, dan lainnya. Jadi, jelas tulisan ini tidaklah lengkap. Dan aku jelas bukan pendukung ideologi Juche ataupun rezim Kim Dynasty.


Kim Il Sung Square

Pertama, untuk memahami Korut, hermit kingdom yang dibuat oleh Kim Il Sung dan ideologi Juche. Deskripsi Juche adalah “prinsip independensi, bergantung pada diri sendiri, melindungi kedigdayaan dan kebanggaan negara” dan ini semua diprakarsai oleh tuhan bagi warga Korut, eternal leader Kim Il Sung.

Kita tahu hidupnya dipenuhi propaganda, termasuk sosok absolutnya dan sejarah yang dirubah. Dengan cara ini, Il Sung memimpin negara paling terisolasi selama 46 tahun sampai kematiannya pada 1994. Dan Kim Dynasty ini dilanjutkan oleh Kim Jong Il dan Kim Jong Un, negara yang berdedikasi penuh pada dinasti ini dan ideologi mereka.

Ya, mayoritas warga Korut hidup di dunia dimana mereka ada hanya untuk Kim Dynasty. Dengan doktrin yang ditanamkan sejak kanak-kanak, bahkan setiap warga memiliki pin dada dengan potret Kim Il Sung dan Kim Jong Il, atau salah satu dari keduanya. Pin ini juga menandakan status sosial seseorang dan harus diperlakukan khusus.

Ditambah lebih dari 500 patung Kim Il Sung ada di seluruh Korut, dan yang paling ikonik, patung perunggu 22.5 meter Kim Il Sung dan Kim Jong Il di Mansundae Grand Monument dimana seluruh rakyat diharuskan menghormatinya hampir setiap hari. Dari sini potret hermit kingdom yang berpusat pada Kim Dynasty sudah sangat kentara.

Mansudae Grand Monument

Menurut Steyn, dan puluhan travellers yang sudah berkesempatan mengunjungi Korut, orang-orang disana tidaklah berbeda dengan orang di negara lain. Banyak yang semula mengira bahwa orang Korut itu dingin, nonhuman, berpegang pada aturan Juche dan kesetiaan pada sistemnya. Nyatanya, tidak.

Menghadapi travellers, tidak bisa disangkal kalau mereka lebih pemalu dan tidak yakin diperbolehkan untuk berbicara banyak selain sekedar basa-basi. Kenyataannya, kebebasan berekspresi masih menjadi masalah serius di Korut, orang-orang disana hanya tinggal di rezim yang berbeda dengan mayoritas dunia, tapi selain itu, sama.

Yang menarik, dikatakan bahwa Korut menganggap Korsel adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mereka. Ramalan cuaca di TV yang dikontrol pemerintah menyiarkan berita dari Baekdusan di ujung utara Korut sampai Jeju di ujung selatan Korsel. Bisa dikatakan, Korut membuka lebar pintu unifikasi, meski dengan poin yang tidak bisa seluruhnya diterima Korsel.

Picture panel at Sambong Farm, Pyongwon County, DPRK (Photo by Erich Weingartner)

Dengan populasi 25 juta jiwa, hanya 20% dari tanah Korut yang bisa dijadikan zona agrikultur. Dengan impor makanan yang dibatasi, maka panen yang bagus sangat dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan naional. Ini juga yang membuat Korut menjadi salah satu negara yang masuk kategori kurang mampu.

Karena itu sebagain wilayah Korut didominasi pertanian selain pertambangan. Pemandangan berbeda ditunjukkan ibukota Pyongyang. Dengan arsitektur yang didominasi gaya komunis seperti Minsk dan Moscow, Korut membanggakan infrastruktur mereka yang sering disebut sebagai yang termegah di dunia.

Antara lain Kim Il Sung Square, Kumsusan Memorial Palace yang menjadi tempat peristirahatan dua eternal leader yang dibalsem, Juche Tower, Pyongyang Metro, Mansudae Grand Monument, Rungnado Stadium, Pyongyang Arch of Triumph, Grand People’s Study House, Ryugyong Hotel, dan Victorious Fatherland Liberation War Museum.

Yang bisa disimpulkan, Korut tidaklah seperti yang digambarkan media. Setidaknya tidak untuk Pyongyang, kota dimana hidup kelas sosial tertinggi dari seluruh Korut. Propaganda masih banyak dimana-mana, Juche sebagai ideologi berbeda dengan komunisme, dan negara dimana human rights & freedom of speaks masih sangat dibatasi.

Well, still sounds like the type of countries some idiot we know from local news would like to see it’s happen to this country.


Dan baru saja, jika mengikuti berita dunia, diadakan Inter Korean Summit pada 27 April 2018 kemarin. Yep, baru saja. Kenapa acara ini menjadi sangat penting? Karena ini melibatkan salah satu world leader paling terkenal, Kim Jong Un, dan prospek akan penyatuan kembali semenanjung Korea sejak 1953.

Lebih jauh, Uncle Donald juga ikut “main-main” dalam hubungan dua negara ini, juga menyangkut denuclearization atau penghentian program nuklir Korut, yang menjadi salah satu faktor ketegangan di Asia Timur. Dengan kata lain, acara ini adalah salah satu yang paling disorot karena faktor politiknya.

Inter Korean Summit 2018 yang diadakan di Panmunjeom, pintu gerbang resmi antara Korut dan Korsel menghasilkan Deklarasi Panmujeom, dengan poin utamanya adalah “tidak ada lagi perang di semenanjung Korea, era baru perdamaian dimulai” jika belum tahu, diatas kertas kedua Korea, secara teknis masih ada dalam situasi perang.

Rangkuman dari Inter Korean Summit bisa dilihat disini. Dan kenapa aku memberi perhatian khusus pada ini? Karena ini jelas lebih menarik ketimbang melihat politik lokal yang seperti ingin membuat sejarah Korea 70 tahun lalu terulang di tanah tempat kita berdiri. Tidak, lebih menyentuh bagiku melihat Kim Jong Un dan Moon Jae In membawa negaranya ke hal yang lebih baik.

Watch All The Highlights Of The Historical Meeting Between Kim Jong Un And Moon Jae In

Lebih baik? Masih butuh waktu, mungkin sangat lama untuk melihat apakah hasil dari Inter Korean Summit 2018 akan lebih baik dari pembicaraan kedua negara sebelum-sebelumnya. Tapi yang jelas, melihat dua pihak yang berseteru bisa kembali adem adalah sesuatu yang jauh lebih baik bukan? Except if you’re a goddamn psycho.

For me, communism did met it’s end. But without Lenin and 1917, the world may wouldn’t ever know the differences between communism and liberalism, nor which is better. If USSR didn’t topple in late 80’s, the world we life today are different. We learn from history, not to made the endless circle.

In this moment, there aren’t North or South, they’re a united nations separated by war and trying to live in peace, and if possibly, return to the past. They’re know the pain, the suffering, and we could learn from it.


Akhir kata, singkat saja, aku tidak tahu dan tidak peduli dengan orang lain, menulis adalah passion, dan aku menulis apa yang ingin kutulis. Idol, sejarah, space, mobil, atau politik, semua sesuai keinginanku. Dan aku jelas lebih suka menulis optimisme ketimbang kehancuran tanpa bisa memberi solusi. Fin.

All images and videos used is credited to it’s respective owners

Leave a Reply

17 Replies to “North Korea Hermit Kingdom”

  1. Katanya ada presiden sbuah ngra yg nawarin negranya jd tuan rumah pertemuan antra uncle donald n bro kim jong un ya? 😀

    Gak terlalu ikutin politik, terlalu berat, cuma berhrap smua aman damai sejahtera, termasuk di negeri tercinta ini 🙂




    0



    0
    1. Momennya ditepatin sama asian games, karena di event ini bakal tampil satu negara unifikasi, bukan north-south lagi, sama kaya pas winter olympics kemarin.

      Harapan yang susah diwujudkan kalo liat banyaknya orang yang….. ingin rasanya berkata kasar 😀




      0



      0
      1. Anakamirikaru says:

        Oh kirain mau ikutan “main2″ala uncle trump 😀

        Sampe tahun 2019 mendatang bkal bnyak yg kkurangan micin, yg waras hnya bsa gigit jari 😀




        0



        0
      2. Kalo dimungkinkan bisa aja pertemuannya di sini loh.

        Ente sebagai duta garamicin harus tanggung jawab lah 😀




        0



        0
      3. Anakamirikaru says:

        Urus msalah dlm ngeri sndri aja dulu lah 😀

        Ya ane sbg pemasok gram micin terbesar justru merasa diuntungkan dgn fenomena ini 😀




        0



        0
      4. Tapi kalo yang diurusin hidupnya aja gak terurus ya mau diapain? 😀

        Liberalis! Boikot! Bakar! 😀




        0



        0
      5. Anakamirikaru says:

        Resiko n tantangan dri pkerjaan, knp mlih pkerjaan yg mewajibkan mngurus urusan orng bnyak 😀

        😀




        0



        0
      6. Pokoknya semua serba salah 😀
        Makanya, bergurulah pada Lord 😀




        0



        0
      7. Anakamirikaru says:

        All hail neptunus, all hail lord 😀




        0



        0
      8. Mungkin ente bisa suratin beliau 😀




        0



        0
      9. Anakamirikaru says:

        😀




        0



        0
  2. Naufalfalah says: Reply

    Korea, contoh perang dan ideologi pasca PD2, memisahkan satu bangsa menjadi dua, seperti Jerman, Vietnam, dan Yaman.

    Namun, Korea justru yang paling sukar bersatu karena ‘ego’ elit, tak heran Dialek Pyongyang tak akan dipahami penuh daripada Dialek Seoul dus kosakata sehari-hari.

    Kedua ‘bangsa’ ini mengalami dinamikanya sendiri. Bicara 1950-an, Pyongyang lebih unggul daripada Seoul, karena infrastruktur industri pra-perang berpusat di sana dan bantuan USSR dan RRC. Sedangkan Seoul lebih miskin daripada Pyongyang karena mayoritas masyarakatnya agraris.

    Jika dibandingkan dgn Indonesia tahun 1950-an, pendapatan kita 2x lebih tinggi. Kalau sekarang, pendapatan Korsel berpuluh-puluh kali lipat.

    Gua jadi inget pandangan orang Amerika tentang Korsel, mereka pernah memvonis Korsel nggak akan maju, ternyata pandangan itu berhasil dibalikkan perlahan tapi pasti.

    Kemajuan Korsel yg bermula tahun 1960-an juga dilalui nyaris sama seperti Korut dari awal, dengan perampasan hak asasi manusia.

    Korut sendiri mulai mengalami kemunduran sejak 1970-an plus melemahnya Komunisme di seantero dunia, plus kelaparan hebat melanda tahun 1980-90-an yang melahirkan generasi malnutrisi tersebut.

    Gua sendiri kagum dengan pencapaian Korsel yang mampu maju seperempat abad, lebih cepat dari Jepang yang perlu waktu setengah abad.

    Juga, budaya politik mereka, demokrasi dan hak asasi yang nggak hancur-luntur dalam 26 tahun kediktatoran militer. Sendi-sendi itu masih dapat tumbuh subur bahkan saat pemerintah militer Korsel sedang kuat-kuatnya. Ini nggak terlepas dari pendidikan yang amat dijunjung tinggi dan masih mengajar kewarganegaraan secara benar. Berbeda dengan kita yang hancur sarana politik sejak Orba berkuasa.

    Dari semua ngalor-ngidul ini, gua berharap elit kedua negara kesampingkan ego demi bangsa yang tercerai-berai pasca PD2, sebab Korea barangkali satu-satunya bangsa yang lahir akibat perang dan ideologi.




    0



    0
    1. Turning point; bubarnya USSR buat Korut, dan 98 buat Korsel. Tanpa dua momen ini, bakal tetep sama kaya era-era sebelumnya. Yang jadi pemersatu dua negara ya cuma satu nama Koryo, bukan north-south. INi yang jadi pembeda dari bangsa-negara lain. Contoh terakhir, Sudan yang akhirnya pecah.

      Mengesampingkan ego, jelas susah. Banyak yang terjadi dari Perang Korea. Reunifikasi belum kelihatan sejauh ini kecuali di acara-acara global semisal olahraga. But it’s a better news for peace.




      0



      0
  3. Benar, sunshine policy. Salah satu langkah unifikasi Korsel. Kemunduran USSR yang dikenal dgn Era Stagnasi Brezhnev, sebab Korut lebih condong ke USSR (Stalinis).

    Dari Koryô (Goryeo), Baekju sampai Chosûn (Joseon) nama Korut sekarang, walau Korsel menyebut diri Han Raya (Daehan) dari Sungai Han. Sayang, nama itu tidak sama lagi. Kalo Joseon si Korsel merujuk pd zaman sebelum 1915 (Penjajahan Jepang), sedang Joseon di Korut masih dipakai sampai sekarang.

    Ya, setidaknya ada kabar gembira dari semennajung Korea ketimbang kabar perang mulut Paman Donald




    0



    0
    1. Sekarang Unca Donald udah muji2 tuh, sampe mau dinominasi masuk nobel perdamaian 😀
      Dunia sudah gila 😀




      0



      0
  4. Hatake Kakashi says: Reply

    gak terlalu ngikutin politik dunia,jd gak tahu bnr/salah pendapat saya ini..tp saya kagum sama sikap berani Kim Jong Un,diancam ini itu sama si Donald,adem ayem aja 😀
    dan juga membuka harapan perdamaian di korea..damailah,krn gak ada untung’y dr yg nama’y peperangan,kecuali oknum2 yg menginginkan kalian hancur tanpa turun tangan,yg hanya nunggu hasil sambil cengar cengir 😀
    Denuklirisasi,apakah akan terwujud? 😀

    sayang kemarin Timnas gagal ngalahin Korut 😀




    0



    0
    1. Semuanya harus dilihat dari banyak sudut pandang…




      0



      0

Leave a Reply