Stephen Hawking in Memoriam

Tidak akan njelimet seperti biasanya, karena kali ini bukan berhubungan dengan ngidol, atau artikel sains yang ujung-ujungnya ngidol, tapi karena pada 14 Februari 2018 kemarin, dunia kehilangan salah satu otak terbaik dalam sejarah ilmu pengetahuan modern.

Stephen Hawking, ahli fisika, antariksawan, dan peneliti berkebangsaan Inggris ini meninggal di usia 76 tahun. Mungkin kita lebih mengenalnya dari parodi yang sering dilihat; ilmuwan dengan keterbatasan fisik diatas kursi roda yang diatur dengan komputer.

Hawking muncul di berbagai parodi, mulai dari The Simpsons sampai Superhero Movie. Hal ini membantu statusnya sebagai ilmuwan superstar, tapi jelas, adalah penghinaan jika kita mengingat Hawking hanya dari keterbatasan fisiknya saja.

Menderita penyakit amyotrophic lateral sclerosis sejak usia 22 tahun, lebih umum dikenal awam sebagai sindrom yang menyerang saraf motorik sehingga menjadi lumpuh. Penyakit ini biasanya hanya membuat penderitanya bertahan hidup selama beberapa tahun saja.

Hawking bukan pengecualian. Didiagnosis pada 1963, di usia 21 tahun dan sedang di tahun terakhirnya sebagai mahasiswa di Oxford. Hebatnya, Hawking bertahan hidup sampai 55 tahun setelahnya, meski harus dibayar dengan mahal.

Di akhir 60’an, Hawking sudah kehilangan kemampuan untuk menulis dan harus menggunakan kursi roda. Selanjutnya dia kehilangan kemampuan untuk berbicara di akhir 70’an, dan di pertengahan 80’an, dia hanya sanggup berkomunikasi dengan alisnya.

Karena penyakitnya ini, Hawking dianggap sebagai duta dari disabilitas, tapi sifatnya yang sedikit reluctant di awal membuat Hawking tidak jarang dikritik. Sejak medio 70’an, Hawking mendapat donasi karena dinilai masih terlalu berharga bagi dunia ilmu pengetahuan untuk dilepaskan begitu saja.

Hawking mendapat kemudahan setelah ditemukannya sistem komputer yang bisa membantunya menuliskan teori, tesis, dan pemikirannya lewat database yang terhubung dengan kemampuan untuk membuat Hawking “berbicara” yah, untuk mudahnya, hal ini sama dengan mengoperasikan PC hanya dengan satu tombol spacebar.

The greatest enemy of knowledge is not ignorance, it is the illusion of knowledge.

Pada 2005, Hawking kehilangan kemampuan untuk menggunakan “spacebar” sehingga hanya bisa berkomunikasi dengan sensor yang diletakkan di otot pipinya. Kemampuan sensor ini hanya sebatas satu kata per menit. Karena itu Hawking bekerjasama dengan Intel dan Swiftkey untuk bisa berkomunikasi lancar lagi.

Tidak bisa dibilang gagal karena Hawking adalah kasus pertama yang dipublikasikan luas, tapi juga tidak bisa dibilang berhasil dengan sukses menerjemahkan otak Hawking. Di atas sudah kusinggung tentang Hawking yang diangkat sebagai duta disabilitas.

Stephen Hawking dan 11 orang lain menandatangani Charter for the Third Millennium on Disability yang bertujuan agar pemerintah melindungi hak-hak penyandang disabilitas. Sejak medio 90’an Hawking juga menjadi salah satu aktivis disabilitas yang paling berpengaruh.


Membicarakan Stephen Hawking tidak lengkap tanpa membahas teori-teorinya. Salah satu yang paling terkenal adalah Hawking Radiation; teori bahwa black hole mengeluarkan radiasi, berbeda dengan banyak teori sebelumnya bahwa dalam black hole adalah kehampaan total.

Selain itu, teori-teori Hawking tentang kosmologi yang dipadukan dengan general relativity dan quantum mechanics adalah pioneer pada masanya, dan sekarang diterima sebagai teori umum. Mudahnya, Hawking membuat teorinya berdasarkan teori-teori yang sudah ada dan itu bisa diterima akal sehat.

Hasil karyanya yang paling terkenal, A Brief History of Time, memberi gambaran. Big bang, black hole, sampai flat earth. Ada semua, hanya tergantung pada persepsi pembaca, percaya atau tidak. Selain teori kosmos, actually, I’m quite a follower of Hawking’s view.

Dari pandangannya tentang masa depan umat manusia, human nature, sedikit kontra dengan pandangannya tentang agama dan konsep ketuhanan, politik, sampai ke the theory of everything, I would say it loud; Hawking was quite a person.

Bukan mendewakan seorang Stephen Hawking, tapi karena aku sendiri punya pandangan yang kurang lebih sama, memiliki role model adalah sesuatu yang menyenangkan. Bukan tepatnya role model mungkin, tapi orang-orang yang berpandangan sama.

Ya, karena itulah aku cukup sedih dengan kabar meninggalnya Stephen Hawking. Kehilangan seseorang yang jelas berjasa lebih besar daripada banyak orang diluar sana yang secara fisik lebih sempurna dari Hawking tapi secara moral dan sumbangsih kalah darinya.

Bagiku, melihat Stephen Hawking bukan hanya dari segi sains, melihatnya hanya sebagai ilmuwan yang menganggap sains adalah segalanya. Bukan juga melihatnya dari segi penyandang disabilitas yang dianugerahi kemampuan lain sebagai gantinya, atau sebagai orang atheis saja.

Melainkan melihatnya sebagai manusia dengan segala kompleksitasnya. Tidak ada manusia yang sempurna kan? Kecuali kalau kau menganggap dirimu sempurna sehingga dengan mudah menjelek-jelekkan orang lain. Selamat jalan, Stephen Hawking.

All images and videos used is credited to it’s respective owners

Leave a Reply

macorionid-com